Monday, November 25, 2013

Sharing Pict : My Snow Experience (Part 2)

Pengalaman pertama selalu membawa kesan yang sulit terlupakan, begitu pula dengan pengalaman pertama menyentuh dan merasakan langsung salju yang dingin membekukan seluruh tubuh saat perjalanan ke Austria dan Swiss di musim dingin 2008. Meskipun demikian, pertemuan-pertemuan berikutnya dengan salju tetap membekas dan meninggalkan sensasi tersendiri, sebuah pengalaman yang tidak pernah membosankan untuk dialami dan dirasakan. Mungkin ini adalah perasaan wajar dari seseorang yang berasal dari kampung tropis, yang sepanjang tahun menikmati limpahan cahaya matahari :)

Puji dan syukur atas nikmat yang Allah berikan untuk kembali merasakan pengalaman melihat dan merasakan salju beserta keindahan serta sensasinya di beberapa tempat yang berbeda. 


Mt. Pilatus, Swiss

Bulan November 2008 mendapat kesempatan mengunjungi beberapa kota di Eropa seperti Paris, Milan, Roma dan untuk kedua kalinya ke Lucernce, Swiss. Salah satu lokasi wisata yang dikunjungi kali ini adalah Mt. Pilatus yang berjarak sekitar 30 menit dari Lucerne, sebuah resort musim dingin dengan salju abadi pegunungan Alpen yang indah.

View di kaki Mt. Pilatus sesaat sebelum naik kesana menggunakan kereta dengan kapasitas sekitar 75 orang.          

































Pemandangan dari balik jendela kereta saat mendaki menuju Mt. Pilatus. Pucuk-pucuk cemara yang terlihat berwarna putih diselimuti salju tipis, sengguh sebuah landscape indah ciptaan Tuhan yang patut untuk disyukuri.























Pondok-pondok sepanjang jalan menanjak, nampak salju yang terhampar di halaman dan atap-atapnya.


































Setelah menempuh perjalanan naik sekitar 30 menit, akhirnya tiba di puncak Mt. Pilatus. Disambut dengan pemandangan indah kota Lucerne serta lapisan-lapisan awan yang terhampar dibawah kami. Jadi teringat lagu Negeri Di Awan KLA Project.






























Menyusuri hamparan salju saat matahari bersinar cerah dengan langit yang membiru sungguh sebuah keindahan yang menawan, subhanallah...



































Terlihat dari kejauhan kereta merah yang naik turun membawa para wisatawan untuk menikmati indahnya puncak Pilatus.























Serta sebuah gereja kecil yang tertutup tebalnya salju, terlihat dari kejauhan.























Mt. Pilatus, pengalaman kedua yang yang tetap berkesan.
























Delphi - Kalambaka, Greece

Trip pada tahun 2010 ini mengunjungi kota-kota terkenal 2 negara yaitu Turkey dan Greece. Sebuah perjalanan yang berkesan mengunjungi dua imperium dunia yang sangat terkenal yaitu Turkey Ottoman dan  Yunani.

Saat perjalanan dari kota Athena menuju Meteora di Kalambaka, sebuah kompleks Monastery yang terkenal, beberapa saat setelah melewati Delphi...tanpa disangka-sangka dari kaca jendela bus yang kami tumpangi terhampar lapisan salju yang semakin lama semakin menebal. Tidak terbayangkan sebelumnya di bulan Maret, di kawasan Mediterrania, kembali bertemu dengan salju. Layaknya manusia tropis yang jarang melihat salju, antara kaget dan senang bercampur menghasilkan teriakan-teriakan norak di dalam bus :)

Saat bus  stop di sebuah rest area, kenorakan yang sejak tadi terpendam akhirnya terlampiaskan.









































Tiba di kota Kalambaka saat malam telah tiba. Salju turun dengan derasnya, sementara beberapa teman dengan norak keluar hotel untuk menikmati salju tipis yang turun membekukan badan, saya lebih memilih untuk menikmati duduk-duduk di lobby hotel yang dilengkapi dengan pemanas kayu bakal model lama, sambil ditemani secangkir tes panas.

Keesokan harinya, rencana mengunjungi Meteora sempat tertunda karena jalan untuk menuju kompleks monastery di puncak bukit batu tersebut tertutup lapisan salju tebal yang turun malam hari kemarin. Sambil menunggu jalan tersebut dibuka, menghabiskan waktu dengan berkeliling di sekitar hotel sambil mengabadikan lapisan salju tebal yang terserak dimana-mana.


 Nampak kompleks monastery Meteora dari kejauhan.

































Setelah bersabar menunggu sekitar 2 jam, kami mendapat kabar bahwa jalan sudah dibuka. Semua sudah tidak sabar untuk segera bisa sampai kesana dan penantian tersebut terbayar dengan pemandangan menakjubkan yang kami nikmati sepanjang perjalanan menanjak maupun setelah sampai di kompleks monastery tersebut.




Nampak gumpalan salju yang menempel di pucuk-pucuk pohon yang mengering laksana pohon kapas dalam kenangan masa kecil, ataupun lapisan salju tebal yang terhampar di atap-atap kompleks tersebut.























Terlihat beberapa biarawati yang sibuk membersihkan salju tebal yang menutup jalan-jalan di kompleks tersebut. Jadi ingat adegan seperti di film-film.























View kota Kalambaka yang tersaput salju dari ketinggian, dengabn latar belakang langit yang membiru...sungguh indah.






















Ternyata bukan hanya manusia tropis yang senang narsis di hamparan salju, bahkan pasangan bule inipun turut menghentikan mobilnya untuk berpose dengan latar belakang salju yang menutupi jalan.

























Ini adalah pertemuan tak terduga dengan salju tebal di kawasan Meditterania, sebuah pengalaman yang meninggalkan kenangan yang sulit untuk dilupakan.
























Jakarta, 24 November 2013


Yadid ARA

Saturday, November 16, 2013

Sharing Pict : My Snow Experience (Part 1)

Sebagai anak Kalimantan yang lahir dan besar di kawasan tropis, salju adalah impian masa kecil yang hanya bisa dinikmati lewat bacaan di majalah atau buku, serta lewat film-film yang diputar di tv ataupun bioskop. Masih ingat dulu sewaktu kecil membayangkan salju turun di halaman rumah, dan hal pertama yang ingin dilakukan adalah mengambil sirop kemudian mencampur dengan salju yang turun untuk dinikmati sebagai es campur :) Masih terbayang bagaimana senangnya saya bersama teman-teman masa kecil saat ada tetangga membuat kasur kapuk, mengejar kapuk-kapuk yang berterbangan seolah-olah itu adalah salju yang turun ke dunia kecil kami.

Dengan ijin Allah, mimpi masa kecil tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Ingin saya bagi cerita mengenai mimpi masa kecil tersebut, sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan, bisa melihat dan merasakan langsung salju yang turun membasahi bumi, yang selama sekian puluh tahun menjadi mimpi dan harapan.


Winter Trip Feb 2008

Tahun 2008, perusahaan memberikan kesempatan untuk mengunjungi beberapa negara Eropa dan kebetulan trip kali ini dilakukan di musim dingin. Sebenarnya ini adalah perjalanan kedua saya ke Eropa, tapi saat ke Paris dan Amsterdam tahun 2001 waktu itu masih musim gugur sehingga mimpi untuk melihat langsung salju di negara 4 musim tersebut belum tercapai.

Perjalanan dari Vienna ke Innsbruck di Austria adalah pertemuan pertama saya dengan salju. Walaupun hanya terlihat dari jauh dan dari dalam bis pula, waktu itu sempat norak berteriak-teriak sambil menunjuk-nujuk ke puncak-puncak barisan pegunungan Alpen tersebut. Ini adalah foto pertama saya mengabadikannya salju dari kejauhan.























Sampai di kota Innsbruck yang sangat dingin, mata terpuaskan dengan keindahan kota dengan latar belakang salju pegunungan Alpen. Alhamdulillah, walaupun hari ini hanya bisa menikmati salju dari kejauhan tapi setengah dari impian masa kecil sudah diwujudkan.


Bangun pagi-pagi di hotel langsung membuka pintu balkon. Brrrrrr...langsung diserbu udara super dingin dibawah 0 derajat celcius, yang cukup membuat hidung dan telinga serasa membeku. Satu dua jepretan sudah cukup, tubuh tropis ini masih belum bisa menyesuaikan dengan kondisi cuaca disana.























Perjalanan hari ini dilanjutkan ke Neuwschwanstein Castle, sebuah kastil indah yang menjadi inspirasi Walt Disney ketika membuat bentuk istana Disney Land. Terletak di wilayah Jerman yang berbatasan dengan Austria. Pejalanan naik bis kesana melewati daerah perbukitan indah masih dengan latar belakang pegunungan Alpen dengan saljunya yang menggoda. Saat bus stop, sempat mengabadikan dari atas jembatan sebuah danau yang membeku dekat rest area tersebut. Rasanya sudah semakin dekat dengan salju walaupun belum tersentuh olah tangan.

































Neuwschwanstein adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Untuk pertama kali seumur hidup bisa merasakan, menyentuh, dan menginjak langsung salju yang bertebaran di sekitar lokasi tersebut. Bisa dibayangkan betapa noraknya waktu itu, sayang siropnya lupa dibawa :)


































Pengalaman unik lainnya saat itu adalah berjalan di atas sebuah danau yang membeku dengan lapisan es tebal di atasnya. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. 























Setelah Neuwschwanstein perjalanan dilanjutkan ke sebuah kota yang indah di Swiss, Lucerne. 























Dari Lucerne inilah keesokan harinya kami akan naik Mt. Titlis, sebuah tempat wisata terkenal di Swiss yang memiliki salju abadi. Untuk mencapai Mt. Titlis kami harus naik bis dulu ke kota resort kecil, Engelberg.























Dari Engelberg dilanjutkan naik cable car yang cukup menegangkan, untungnya ingat bahwa saat ini sedang berada di Swiss yang perawatan cable car-nya pasti bagus ditambah dengan pemandangan yang menakjubkan saat menanjak menuju puncak Mt. Titlis, rasa takut perlahan hilang.


























Berada di puncak Titlis, segala rasa berkecamuk antara gembira, norak dan haru merasakan langsung butiran-butiran salju yang lembut turun melayang-layang dan menempel di seluruh tubuh. 

 























Puas berdingin ria dengan suhu dibawah nol derajat, kami kembali turun menuju Engelberg. Sepanjang perjalanan turun, terlihat banyak orang-orang yang sedang menghabiskan liburan musim dingin dengan bermain ski. Ingin rasanya mencoba bermain ski di salju, nampaknya mudah tapi menurut pemandu yang mendampingi kami katanya itu tidak semudah yang terlihat :)




Pengalaman pertama selalu menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Walaupun baru menyadari bahwa ternyata dinginnya udara di daerah yang bersalju sungguh sangat tidak mengenakkan, bahkan cenderung menyiksa untuk tubuh tropis yang hanya punya 2 musim setiap tahunnya. Tapi tetap saja berdoa semoga ada kesempatan untuk melihat dan merasakan salju kembali di masa yag akan datang. 




Subhanallah...terimakasih ya Allah atas nikmat yang Engkau berikan.


Jakarta, 16 November 2013


Yadid AR Abie

Sharing Pict : Edisi Narsis

Bongkar-bongkar dokumen, majalah dan arsip lama, ketemu beberapa artikel yang dulu pernah dimuat di beberapa media. Lumayan buat numpang narsis sekaligus untuk dokumentasi anak cucu nanti :) Semoga bisa dinikmati.


SWA Magazine (Edisi Tahun 2000)


Detik.com 

































Tabloid KONTAN


Bisnis Indonesia



Media Indonesia


Tempo Interaktif

SWA Magazine (Edisi Tahun 2009)




Koran AGI











Jakarta, 16 November 2013


Yadid AR Abie 

Monday, November 4, 2013

Grown Up Digital

Weekend kemarin sempat membaca buku ‘Grown Up Digital’ edisi bahasa Indonesia yang ditulis oleh Don Tapscott yang juga menulis buku ‘Growing Up Digital’ dan ‘Wikinomic’. Buku tersebut sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan, tahun 2009, tetapi masih banyak hal yang relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Ditulis berdasarkan sebuah project yang dikerjakan oleh Tapscott dengan sponsor beberapa perusahaan seperti Accenture, Fedex, GM, PWC, Canada Post, dll yang tertarik dengan perilaku anak-anak muda masa kini dan prediksi konsumen masa depan mereka. Penelitian melibatkan interview terhadap lebih dari 6000 anak muda, ilmuwan, pelaku bisnis, pejabat pemerintah dan praktisi pendidikan dari 12 negara termasuk Brazil, Mexico, India, dan China (sayang Indonesia tidak termasuk didalamnya), serta didukung oleh 100.000 aktivis digital (TakingITGlobal)

Walaupun belum habis membaca seluruh 500 halaman lebih buku tersebut, ada beberapa hal menarik yang ingin saya share mengenai isi buku tersebut yang berguna untuk dibaca oleh para orang tua untuk lebih memahami perilaku anak-anaknya, ataupun bagi para pemimpin di perusahaan untuk lebih mengerti gaya bekerja dan cara berpikir para karyawan muda di perusahaannya.

Buku ini membahas mengenai sebuah generasi baru yang disebut dengan Internet Generation (Net Generation). Don Tapscott yang mengelompokkan penduduk (khususnya di USA) kedalam empat generasi, yaitu :
1. The Baby Boom Generation (Baby Boomer): terdiri dari penduduk yang dilahirkan antara 1946 – 1964.
2. Generation X: terdiri dari anda yang dilahirkan pada periode 1965 – 1976.
3. The Net Generation: berisi generasi seusia anak-anak saya yang dilahirkan antara 1977 – 1997.
4. Generation Next: adalah yang lahir pada periode 1998 – sekarang.

Setiap generasi hidup pada era yang berbeda. Jika generasi orang tua saya (baby boomers) seakan dikagetkan dengan kemunculan televisi, saat ini saya dan rekan-rekan seusia (generasi X) mulai khawatir terhadap anak-anak yang kami lahirkan di era Net Generation ataupun Next Generation. Mereka lahir di era teknologi. Ibaratnya orang dilahirkan menghirup udara segar, mereka dilahirkan di tengah maraknya berbagai teknologi komunikasi. Jika saya menganggap teknologi sebagai alat maka anak-anak itu hidup dengan teknologi. Tapscott menyatakan bahwa dikalangan Net Generation, teknologi amat transparan. Don mengutip Coco Conn, cofounder dari Web-based Cityspace Project, bahwa bagi Net Generation teknologi itu transparan dan seakan tak terlihat, “It doesn’t exist. It’s like the air”. Mereka bernafas dengan teknologi.

Perilaku para Net Generation digambarkan Tapscott sebagai berikut :

1. Freedom.
Mereka mengharapkan dan menuntut kebebasan pilihan, dan variasi dalam semua bidang kehidupan mereka. Misalnya daripada mencari pekerjaan setelah lulus kuliah dan terus menerus bekerja disana, mereka lebih tertarik untuk mencari pekerjaan yang tepat dan menyenangkan untuk mereka. Mereka ingin tinggal dan bekerja di manapun dan kapanpun saat mengingingkannya.

2. Customization.
Generasi sebelumnya menerima produk yang diproduksi secara massal. Net Generation secara teratur melakukan customization atas pembelian mereka dan bahkan pekerjaan mereka .

3. Scrutiny
Dengan banyaknya informasi yang mereka terima, Net Generation secara naluriah meneliti dan memilah informasi yang mereka hadapi. Mereka meresponse hoax dengan cepat. Untuk berkomunikasi dan menjual sesuatu kepada Net Generation, Anda harus jujur ​​dan terbuka.

4. Integrity
Net Generation menuntut integritas . Mereka mengharapkan perusahaan untuk menampilkan kejujuran. Mereka bisa memaafkan kesalahan yang jujur, tapi tidak untuk penipuan.

5. Coloaboration
Jika para anggota generasi sebelumnya kadang-kadang bertukar cerita tentang pekerjaan saat minum-minum, Net generation lebih suka melakukan pekerjaan mereka sendirian. Net Generation tumbuh secara berkolaborasi dengan wajar. Kolaborasi mereka melampaui teamwork atau social contribution, lebih pada bentuk co-creation (seperti Wikipedia).

6. Entertainment
Net Generation suka akan hiburam. Mereka berharap untuk bisa break secara teratur dari pekerjaan untuk bersantai. Pada kenyataannya, mereka bahkan tidak melihat garis yang jelas antara bekerja dan bermain , mereka ingin bersenang-senang di tempat kerja . Itulah mengapa Microsoft dan Google menempatkan begitu banyak game online di kantor mereka.

7. Speed
Net generation adalah pengguna aktif SMS dan instan messaging/chatting yang dibangun pada koneksi kecepatan tinggi , sehingga mereka berharap semuanya terjadi dengan cepat . Koneksi internet dan komputer menjadi lebih cepat dan lebih cepat . Mereka ingin jawaban, keputusan dan tindakan yang cepat. Kelambatan membuat mereka bosan, cemas dan kesal .

8. Innovation
Sepanjang kekehidupan mereka, Net Generation telah melihat banya produk dan teknologi baru melakukan perubahan. Mereka terus mengharapkan perubahan, menginginkan yang terbaik, dan juga mainan terbaru.


Hal yang menarik juga dari buku Tapscott adalah bagaimana interaksi dengan teknologi komputer telah mengubah otak Net Generation. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa neural connectipn (hubungan saraf) baru terbentuk di bagian yang paling banyak digunakan dari otak mereka, dan terus terjadi sampai dewasa. Dengan demikian , pengalaman multimedia telah membuat mereka lebih visual dan lebih baik dari kemampuan spasialnya. Kemampuan koordinasi antara tangan-mata mereka menjadi lebih baik, dan mereka lebih efektif dan membuat keputusan serta berkolaborasi.

Sedikit banyak buku ini menjelaskan kepada saya bagaimana anak pertama saya Ryan yang duduk di kelas 2 SMP seringkali asik (baca : setengah autis) di ruang keluarga dengan earphone MP3 dari Ipod, sementara tangannya sibuk mengerjakan tugas presentasi sekolah (yang diambil dari e-Learning sekolah) di notebooknya yang terhubung ke Google, Wikipedia dan Youtube untuk mencari bahan presentasi, sambil sesekali berkirim message lewat BBM ke teman-temannya. Atau bagaiman Rifqy yang kelas 5 SD hanya dalam 1-2 jam mempelajari gadget baru saya tanpa buku petunjuk, untuk kemudian fasih menggunakan Scrapbooker, Action Memo, NFC hingga Air Gesture dan S Voice. Serta Rayya yang waktu itu duduk di TK A berhasil membuat saya terpaksa harus membayar tagihan kartu kredit sebesar US$758 akibat tanpa dimengertinya telah berbelanja di iStore untuk perlengkapan masak game online Bakery Story yang dijalankannya di iPad hanya dalam waktu 2 jam.

Banyak hal lain lagi yang diceritakan dalam buku tersebut, dimana dalam kesimpulan akhirnya Tapscott menulis “The bottom line is this: If you understand Net Generation, you will understand the future”

Happy reading and Love Your Monday...
 
 
Yadid ARA
(pemilik account LinkedIn, Facebook, YouTube, Instagram, Path, Circle, Pinterest, Blogger dan pengguna aktif BBM, WhatsApp dan Line..hehehe)