Monday, December 16, 2013

Anies Baswedan : KPK Tidak Mungkin Sendirian Memerangi Korupsi

Selamat pagi…
Dua minggu yang lalu dalam acara Indonesia Knowledge Forum 2013, saya cukup terpesona dalam session yang dibawakan oleh Anies Baswedan, tokoh intelektual muda Indonesia yang cerdas, punya leadership yang kuat sekaligus juga punya visi yang jelas untuk Indonesia.
Hari itu Anies banyak bercerita mengenai pendidikan di Indonesia dan inisiatif Indonesia Mengajar, sebuah kegiatan yang digagas untuk turut serta mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia Raya ini. Saya terkesan dengan kata-kata Anies, bahwa pendidikan di Indonesia masih banyak hal yg perlu diperbaiki dan kita semua harus ‘own the problem and involve to solve the problem’. Dalam web site Indonesia Mengajar (https://indonesiamengajar.org/) hal tersebut dituangkan dalam kata-kata “Mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik”
Bukan hanya bicara mengenai pendidikan, Anies juga bicara banyak hal dalam forum yang lebih banyak diisi secara interaktif dalam bentuk tanya jawab. Satu hal yang juga menarik adalah topic tentang korupsi di Indonesia. Saya copy sebuah tulisan Anies Baswedan dibawah mengenai kegeraman nasional terhadap perilaku korup yang terjadi di semua sendi kehidupan kita ini.
Materi presentasi Anies di forum tersebut sudah saya share dan silahkan kalau mau download di : https://www.dropbox.com/s/tv8mpupvlexlop2/Anies%20Baswedan.pdf
Maaf kalau ini dianggap kampanye J (karena Anies ikut konvensi calon Presiden Partai Demokrat), tapi sejujurnya saya berharap suatu saat Anies akan menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Untuk Indonesia yang lebih baik.
Happy reading and Love Your Monday J

Yadid

KPK Tidak Mungkin Sendirian Memerangi Korupsi
Tidak pernah dalam sejarah bangsa ini ada gegap-gempita melawan korupsi sekuat beberapa tahun belakangan ini. Sejak gelora reformasi bergulir, genderang perang melawan korupsi makin kuat gemanya.
Usaha menyejahterakan rakyat, seperti program di bidang kesehatan dan pendidikan, bahkan kemandirian ekonomi itu relatif sepi perlawanan dan memang tidak pantas ditentang. Tak ada alasan menentang karena itu sewajarnya dikerjakan negara. Ini semua adalah kegiatan yang sifatnya meng-ada-kan yang belum ada, bukan meniadakan yang sudah ada.

Perang melawan korupsi berbeda dengan program lain yang dijalankan negara. Memerangi praktek korupsi adalah meniadakan yang ada, memangkas pendapatan koruptor. Perang ini juga berarti mengantarkan koruptor ke pengadilan dan dihukum.

Koruptor tak berminat pasif, sekadar duduk-duduk santai, sambil berharap tidak diciduk. Mereka akan melawan. hal itu sudah jamak, predictable, dan lumrah. Karena itu, jangan heran kalau usaha melawan korupsi akan mendapat perlawanan hebat. Siapa pun yang berada di ranah pemberantasan korupsi tak boleh ”manja” minta disayang, disambut dengan halus dan bersahabat.
Para pemberantas korupsi itu akan dihajar fitnah, digempur perang opini, dan dilemahkan dengan semua cara. Karena itu, semua pejuang antikorupsi harus selalu tangguh.
Lihat data World Competitiveness report 2011 pada tabel.


Hasilnya menarik. Dalam banyak aspek, Indonesia sama dengan dan bahkan di atas begitu banyak negara industri. Tapi, begitu masuk ke komponen yang sarat potensi korupsi, posisi Indonesia langsung melorot: sejajar atau bahkan lebih rendah daripada negara yang pendapatan per kapitanya di bawah seribu dolar. Melihat kenyataan itu, sesungguhnya republik ini memiliki syarat-syarat untuk maju dan berkembang. Rakyat di nusantara ini berhak menikmati kesejahteraan yang lebih baik.
Korupsi adalah penghambat kemajuan yang luar biasa efektif. Memerangi korupsi tidak bisa dititipkan hanya pada para penegak hukum. Komisi Pemberantasan Korupsi adalah institusi yang bisa diharapkan menuntaskan kerja besar ini. Pertempuran melawan korupsi sesungguhnya adalah perjuangan semesta.
KPK bisa menjadi ujung tombak. KPK memiliki kewenangan memproses secara hukum. Tapi KPK tidak mungkin sendirian memerangi korupsi.
Kemunculan berbagai lembaga antikorupsi sejak masa awal reformasi adalah sinyal jelas bahwa rakyat mau turun tangan menyelesaikan masalah korupsi. Lembaga-lembaga ini bisa memainkan peran sebagai artikulator kewarasan publik dalam menghadapi korupsi. Sebagai lembaga yang menyuarakan genderang melawan korupsi, mereka harus terus menjaga kredibilitas dan integritas. Legitimasi moral atas eksistensi tiap lembaga yang mencantumkan antikorupsi sebagai agenda utama adalah kredibilitas dan integritas mereka.

Jumlah dan sebaran lembaga antikorupsi ini perlu ditingkatkan. Meski selama ini lebih banyak bergerak di Jakarta dan beberapa kota besar, kehadiran lembaga antikorupsi secara lebih merata di berbagai wilayah Indonesia bisa memiliki efek positif. Namun perlawanan terhadap korupsi harus jauh lebih luas. Rakyat harus turun tangan.

Proses hukum memang hanya bisa dilakukan penegak hukum yang secara konstitusi diberi hak. Tapi gerakan melawan korupsi bisa menemukan pola baru: pantau pejabat publik dan kabarkan praktek koruptif kepada dunia. Pada zaman revolusi kemerdekaan dulu, bukan hanya pasukan dalam kesatuan-kesatuan militer yang bertempur melawan kekuatan kolonial. Rakyat biasa pun turun tangan meski sekadar bermodal bambu runcing sebagai alat melawan hingga kekuatan kolonial rontok. Peperangan melawan korupsi pun harus dilakukan secara kolektif.

Rakyat bisa menjadikan kamera di telepon selulernya sebagai bambu runcing masa kini. Pantau dan monitor praktek korupsi di mana pun. Jadikan seluruh Indonesia sebagai wilayah yang tak bersahabat bagi korupsi. Lembaga antikorupsi di berbagai daerah menjadi wadah dan wahana menampung hasil pemantauan publik. Partisipasi rakyat dalam mengawasi keseharian pejabat publik bisa jadi salah satu instrumen penting melawan korupsi. Di sisi lain, meratanya korupsi ini mengirimkan pesan yang sangat mengganggu. Keluarga dan rumah tangga di nusantara ini ternyata menghasilkan orang-orang yang tak berintegritas. Yang sangat mengerikan adalah ketika keluarga justru menjadi pelindung praktek dan hasil korupsi. Sungguh sangat mengganggu akal sehat dan akal budi ketika praktek korupsi dihalalkan dan dilindungi di dalam keluarga.
Pada intinya, korupsi adalah gejala. Penyakitnya adalah minimnya integritas.
Pendidikan integritas itu dilakukan bukan melalui teori dan wejangan. Integritas diajarkan lewat contoh, keteladanan. Pemimpin harus menjadi contoh manusia berintegritas. Rumah tangga harus menjadi pilar membangun manusia berintegritas. Orang tua harus belajar mempraktekkan kehidupan di rumah yang bertumpu pada karakter manusia berintegritas. Selain itu, makin hari makin jelas bahwa korupsi yang dilakukan kaum terdidik itu dahsyat. Kaum terdidik tidak hanya melakukan korupsi karena kebutuhan, tapi justru sering karena keserakahan. Fenomena ini seakan-akan mengirimkan pesan pahit: dunia pendidikan menjadi penyuplai koruptor.

Dunia pendidikan tidak boleh tinggal diam dan harus turut memangkas suplai potensi koruptor di indonesia. Mendidik integritas itu perlu, tapi mengajarkan teknik-teknik menghadapi praktek korupsi juga tidak kalah penting. Materi pendidikannya harus sangat praktis dan diarahkan sebagai pembekalan dini memahami efek jahat praktek korupsi dan tip melawan korupsi. Peserta didik tidak hanya belajar teori, filosofi, dan moral, tapi justru diarahkan melihat kenyataan: menulis berdasarkan laporan investigasi mereka tentang praktek korupsi.

Seperti ditulis Klitgaard yang mengutip prediksi John Noonan, penulis buku Bribery, ada suatu masa ketika perbudakan dianggap wajar. Manusia diperjualbelikan secara terbuka. Kini perbudakan itu sudah hilang dan, jika ada orang yang mempraktekkannya, ia akan dikecam dan dihukum. Begitu juga dengan praktek korupsi, sogok-menyogok, dan yang semacamnya.
Suatu saat nanti, niscaya praktek korupsi dan sogok-menyogok tidak hanya melanggar hukum, tapi juga akan tampak sebagai praktek yang terbelakang dan sangat primitif.
Republik ini akan bisa jauh lebih maju dan sejahtera bila praktek korupsi segera dipandang sebagai praktek primitif. Perjuangan semesta membangun integritas dan melawan korupsi harus dimulai. Setiap rumah tangga harus menjadi pilar utama hadirnya integritas. Sekolah dan kampus harus dijadikan zona bebas korupsi. Dan munculkan penggalangan dukungan bagi hadirnya lembaga antikorupsi di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kita perlu sadar bahwa secara konstitusional, memerangi korupsi adalah tugas KPK, tapi secara moral, memerangi korupsi adalah tugas setiap warga negara. 

Monday, November 25, 2013

Jokowi

Selamat pagi…

Jokowi adalah model kepemimpinan yang kini dirindukan banyak orang ditengah-tengah kegelisahan dan kemuakkan publik atas para pemimpin yang korup dan penuh polesan demi pencitraan.
Sebuah  model yang sebenarnya dulu telah dicontohkan oleh Jenderal Soedirman, Jenderal Hoegeng, Hatta, Gus Dur, Ali Sadikin dan banyak lagi pemimpin2 yang sampai saat ini senantiasa hidup dalam sanubari bangsa Indonesia, bahkan jauh setelah mereka telah tiada.

Jokowi tetaplah manusia yang bukan tanpa cela. Tapi banyak hal positif yang mustinya bisa menjadi teladan dari sosok seorang Jokowi.
Semoga semakin banyak diantara kita yang tergerak untuk mencontoh serta meniru cara Jokowi dalam membangun kepercayaan,
untuk lingkungan yang lebih baik, untuk keluarga yang lebih baik, untuk kehidupan yang lebih baik, dan untuk Indonesia yang lebih baik.

Happy reading and love your Monday J

Salam,
Yadid



Cara Jokowi Membangun Kepercayaan


Tak dapat dimungkiri, perubahan lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Dari ketika dijalankan, Anda bukan hanya berhadapan dengan kaum resisten, melainkan juga mereka yang bakal kalah pamor.
Ya, kalau Anda gigih dan berhasil menaklukkan resistensi, maka akan ada kelompok-kelompok lain yang menjadi terlihat “tidak bekerja”, “asal bunyi”, atau “provokator”. Seperti kata George Carlin, mereka menggenggam ayat yang bunyinya begini, “Jika engkau tak bisa menaklukkannya, buatlah orang lain membencinya.” Mereka berkampanye agar tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Jadi inti dari perubahan sebenarnya: Mendapatkan kepercayaan. Obat resistensi itu, pertama-tama, adalah kepercayaan. Jujur dan berani adalah satu hal. Tetapi, ini tidak cukup bila pemimpin gagal memberikan hope melalui kemenangan-kemenangan kecil pada tahun pertamanya. Diperlukan pendekatan khusus untuk mendapatkan kepercayaan. Sebab, provokator juga hanya "mati" di tangan mereka yang sangat dipercaya publik.
Mengubah resistensi itu sendiri ibarat membuka hati manusia yang terluka. Kita tak bisa “menjebol batin” mereka yang terluka untuk membersihkan nanah-nanahnya, kecuali mereka mengizinkannya. Nah, "minta izin membuka hati" ini ada caranya: terlalu lembut tidak tembus, kekerasan hanya membuat mereka jatuh ke tangan para penyamun.
Demikian juga dalam merespons para penyamun yang menghalangi perubahan, selalu ada psikologinya. Nan S Russel, dalam Psychology Today (2012), memberikan tipsnya: tetap respek, hindari komunikasi membalas dengan menyalahkan, sadar diri, jauhkan arogansi, jaga kehormatan dan go beyond yourself (utamakan kontribusi pada publik).

Diplomasi makan malam

Jauh sebelum Jokowi memimpin Jakarta, saya pernah diberitahu pendekatan yang digunakan masyarakat Tionghoa dalam mengatasi berbagai masalah. Semua urusan bisa diselesaikan di meja makan. Dan kalau perut sudah disentuh, hati manusia akan adem. Tetapi, di Tokyo, ternyata juga sama. Bahkan, pekerja-pekerja Jepang hingga larut malam masih menjinjing tas kerja dan jas hitamnya bersama atasan mereka di bar-bar di sepanjang daerah Ginza atau Shinjuku. Dalam ocehan yang terucap, mereka mengatakan, “Kita menanggung sama-sama.”
Saat diserang calo tanah dan warga yang tak mau pindah ke rumah susun yang telah disediakan (dari area waduk Ria-Rio), kita membaca, Jokowi ternyata juga melakukan cara yang sama. Prosesnya begitu cepat. Bahkan jauh lebih cepat dari yang ia lakukan di Solo saat memindahkan PKL dari tengah kota.
“Saat itu saya ajak PKL makan siang dan makan malam 54 kali,” ujarnya. “Setelah itu baru saya sampaikan bahwa mereka akan dipindah. Dan mereka diam semua. Saya katakan, kalau begitu setuju ya... dan mereka menjawab, 'Iya, Pak...'."
Ia memberikan refleksinya sebagai berikut:
Pertama, PKL adalah businessman, sama seperti yang lainnya. Mereka itu pasti berhitung untung ruginya.
Kedua, pada awalnya, setiap diundang makan malam ke Balaikota mereka tahu bahwa mereka akan digusur, karena itulah mereka datang dengan LSM dan advokat-advokat. "Karena itu, saya tak bicara apa-apa, saya hanya mengajak mereka makan malam meski mereka kecewa tak ada omong-omong," ujarnya.
Ketiga, mereka khawatir, di lokasi baru bisnis mereka akan rugi atau diperlakukan tidak adil.
Di Jakarta, saat menghadapi warga-warga yang tinggal di bawah waduk Ria Rio, Jokowi mengatakan, “Saya tak ingin berhadap-hadapan dengan rakyat, rakyat tak boleh ditindas.” Itu sebabnya, ia memilih melayani mereka di meja makan, dan mereka pulang dengan enteng. Jokowi benar, jika perubahan membutuhkan koalisi perubahan, maka berkoalisilah dengan rakyat.

Diplomasi Sentuhan


Blusukan adalah satu hal, tetapi di balik branding Jokowi itu ada diplomasi sentuhan yang luput dari perhatian para elite. Jangan lupa setelah Gen C (connected generation), kita tengah menghadapi Gen T (touch generation).
Bila mesin saja baru terlihat smart kalau disentuh, apalagi hati manusia. Rakyat yang selalu menjadi korban dalam perubahan, merindukan pemimpin-pemimpin yang tak berjarak, yang bisa mereka sentuh. Saya ingin menceritakan kejadian ini.
Suatu ketika Fadel Muhammad bercerita saat ia menemani kandidat cagub DKI dari Partai Golkar yang datang ke sebuah masjid di daerah Kwitang dengan kawalan voorijder. Pedagang di jalan harus minggir, dan cagub tersebut bertemu Habib sebentar, lalu pergi. Setelah itu datanglah cagub incumbent. Kali ini bukan hanya voorijder, melainkan juga camat, lurah, dan hansip sehingga semua PKL tak bisa berjualan. Jalan raya tiba-tiba berubah menjadi lengang dan benar-benar bersih.
Lantas bagaimana saat Jokowi datang? Ia datang tanpa pengawal, menyalami pedagang dan peziarah di sepanjang jalan sehingga agak lama baru sampai di pelataran masjid. Peziarah terkesima karena Jokowi sama seperti mereka, berpakaian seperti rakyat biasa, tak berjarak. Pemimpin yang tak berjarak menyentuh tangan dan pundak rakyatnya, sedangkan pemimpin yang berjarak justru menghindarinya. Bagi mereka, blusukan hanyalah pencitraan, bukan sentuhan hati. Padahal, di situ ada pertautan kepercayaan.
Jadi, kepercayaanlah dasar dari setiap karya perubahan. Dan, pemimpin yang pandai akan memisahkan ilalang dari padi-padi yang harus dipelihara agar menghasilkan buah. Inilah tugas penting para pembuat perubahan di tengah-tengah low trust atau bahkan a distrust society.
Maka, daripada menjegal Jokowi, mengapa tidak bergabung saja dan salami dia sebagai role model. Kalau Anda cinta perubahan, orang-orang seperti ini justru harus diberi apresiasi. Seperti kata Jim Henson, "If you can not beat them, joint them."

Sharing Pict : My Snow Experience (Part 2)

Pengalaman pertama selalu membawa kesan yang sulit terlupakan, begitu pula dengan pengalaman pertama menyentuh dan merasakan langsung salju yang dingin membekukan seluruh tubuh saat perjalanan ke Austria dan Swiss di musim dingin 2008. Meskipun demikian, pertemuan-pertemuan berikutnya dengan salju tetap membekas dan meninggalkan sensasi tersendiri, sebuah pengalaman yang tidak pernah membosankan untuk dialami dan dirasakan. Mungkin ini adalah perasaan wajar dari seseorang yang berasal dari kampung tropis, yang sepanjang tahun menikmati limpahan cahaya matahari :)

Puji dan syukur atas nikmat yang Allah berikan untuk kembali merasakan pengalaman melihat dan merasakan salju beserta keindahan serta sensasinya di beberapa tempat yang berbeda. 


Mt. Pilatus, Swiss

Bulan November 2008 mendapat kesempatan mengunjungi beberapa kota di Eropa seperti Paris, Milan, Roma dan untuk kedua kalinya ke Lucernce, Swiss. Salah satu lokasi wisata yang dikunjungi kali ini adalah Mt. Pilatus yang berjarak sekitar 30 menit dari Lucerne, sebuah resort musim dingin dengan salju abadi pegunungan Alpen yang indah.

View di kaki Mt. Pilatus sesaat sebelum naik kesana menggunakan kereta dengan kapasitas sekitar 75 orang.          

































Pemandangan dari balik jendela kereta saat mendaki menuju Mt. Pilatus. Pucuk-pucuk cemara yang terlihat berwarna putih diselimuti salju tipis, sengguh sebuah landscape indah ciptaan Tuhan yang patut untuk disyukuri.























Pondok-pondok sepanjang jalan menanjak, nampak salju yang terhampar di halaman dan atap-atapnya.


































Setelah menempuh perjalanan naik sekitar 30 menit, akhirnya tiba di puncak Mt. Pilatus. Disambut dengan pemandangan indah kota Lucerne serta lapisan-lapisan awan yang terhampar dibawah kami. Jadi teringat lagu Negeri Di Awan KLA Project.






























Menyusuri hamparan salju saat matahari bersinar cerah dengan langit yang membiru sungguh sebuah keindahan yang menawan, subhanallah...



































Terlihat dari kejauhan kereta merah yang naik turun membawa para wisatawan untuk menikmati indahnya puncak Pilatus.























Serta sebuah gereja kecil yang tertutup tebalnya salju, terlihat dari kejauhan.























Mt. Pilatus, pengalaman kedua yang yang tetap berkesan.
























Delphi - Kalambaka, Greece

Trip pada tahun 2010 ini mengunjungi kota-kota terkenal 2 negara yaitu Turkey dan Greece. Sebuah perjalanan yang berkesan mengunjungi dua imperium dunia yang sangat terkenal yaitu Turkey Ottoman dan  Yunani.

Saat perjalanan dari kota Athena menuju Meteora di Kalambaka, sebuah kompleks Monastery yang terkenal, beberapa saat setelah melewati Delphi...tanpa disangka-sangka dari kaca jendela bus yang kami tumpangi terhampar lapisan salju yang semakin lama semakin menebal. Tidak terbayangkan sebelumnya di bulan Maret, di kawasan Mediterrania, kembali bertemu dengan salju. Layaknya manusia tropis yang jarang melihat salju, antara kaget dan senang bercampur menghasilkan teriakan-teriakan norak di dalam bus :)

Saat bus  stop di sebuah rest area, kenorakan yang sejak tadi terpendam akhirnya terlampiaskan.









































Tiba di kota Kalambaka saat malam telah tiba. Salju turun dengan derasnya, sementara beberapa teman dengan norak keluar hotel untuk menikmati salju tipis yang turun membekukan badan, saya lebih memilih untuk menikmati duduk-duduk di lobby hotel yang dilengkapi dengan pemanas kayu bakal model lama, sambil ditemani secangkir tes panas.

Keesokan harinya, rencana mengunjungi Meteora sempat tertunda karena jalan untuk menuju kompleks monastery di puncak bukit batu tersebut tertutup lapisan salju tebal yang turun malam hari kemarin. Sambil menunggu jalan tersebut dibuka, menghabiskan waktu dengan berkeliling di sekitar hotel sambil mengabadikan lapisan salju tebal yang terserak dimana-mana.


 Nampak kompleks monastery Meteora dari kejauhan.

































Setelah bersabar menunggu sekitar 2 jam, kami mendapat kabar bahwa jalan sudah dibuka. Semua sudah tidak sabar untuk segera bisa sampai kesana dan penantian tersebut terbayar dengan pemandangan menakjubkan yang kami nikmati sepanjang perjalanan menanjak maupun setelah sampai di kompleks monastery tersebut.




Nampak gumpalan salju yang menempel di pucuk-pucuk pohon yang mengering laksana pohon kapas dalam kenangan masa kecil, ataupun lapisan salju tebal yang terhampar di atap-atap kompleks tersebut.























Terlihat beberapa biarawati yang sibuk membersihkan salju tebal yang menutup jalan-jalan di kompleks tersebut. Jadi ingat adegan seperti di film-film.























View kota Kalambaka yang tersaput salju dari ketinggian, dengabn latar belakang langit yang membiru...sungguh indah.






















Ternyata bukan hanya manusia tropis yang senang narsis di hamparan salju, bahkan pasangan bule inipun turut menghentikan mobilnya untuk berpose dengan latar belakang salju yang menutupi jalan.

























Ini adalah pertemuan tak terduga dengan salju tebal di kawasan Meditterania, sebuah pengalaman yang meninggalkan kenangan yang sulit untuk dilupakan.
























Jakarta, 24 November 2013


Yadid ARA